Tugas Terstruktur 11: Aurellia Rahma Elta Kusmana E41

 

Merancang Strategi Ketahanan Ideologi di Media Sosial



Disusun Oleh:

Aurellia Rahma Elta Kusmana
 
46125010110

I. Pendahuluan

Media sosial telah menjadi ruang utama komunikasi, informasi, dan interaksi masyarakat Indonesia. Namun, platform digital ini juga rentan terhadap ancaman ideologi yang dapat menimbulkan disintegrasi sosial, seperti penyebaran hoax, propaganda ekstrem, dan polarisasi politik. Dalam konteks Astaghata, ketahanan ideologi berperan krusial sebagai fondasi bagi stabilitas politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

Urgensi penguatan ketahanan ideologi di media sosial semakin meningkat seiring penetrasi internet yang tinggi, terutama di kalangan generasi muda. Ancaman terhadap ideologi berpotensi memecah persatuan bangsa, menggerus kepercayaan publik terhadap institusi negara, dan menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itu, penguatan ketahanan ideologi harus dilakukan melalui strategi yang terukur, realistis, dan berbasis Astagatra, mengingat keterkaitan erat antara ideologi, politik, dan sosial budaya.


II. Analisis Ancaman

A. Anasir Disintegrasi

  1. Penyebaran Hoax dan Disinformasi
    Hoax dan disinformasi di media sosial menyebar dengan cepat dan dapat memengaruhi opini publik secara masif. Ancaman ini bersifat non-fisik dan non-militer, namun memiliki dampak signifikan terhadap ketahanan ideologi karena dapat merusak nilai Pancasila, memunculkan konflik antar kelompok, dan mengganggu legitimasi pemerintah. Sumber ancaman berasal dari aktor internal maupun eksternal, termasuk influencer yang menyebarkan konten provokatif, aktor politik domestik, dan jaringan asing yang ingin memengaruhi opini masyarakat.

  2. Radikalisasi Digital dan Propaganda Ekstrem
    Kelompok ekstrem memanfaatkan media sosial untuk merekrut anggota, menyebarkan paham radikal, dan menciptakan polarisasi sosial. Ancaman ini mengganggu Kesatuan Sosial-Budaya dan dapat memicu konflik horizontal. Radikalisasi digital bersifat internal dan eksternal, melibatkan aktor non-negara yang memanfaatkan celah regulasi dan literasi digital rendah.

B. Interdependensi Gatra

  • Ekonomi: Polarisasi ideologi di media sosial dapat menurunkan kepercayaan investor dan mengganggu stabilitas ekonomi digital. Misalnya, berita negatif atau kampanye boikot berbasis isu ideologi dapat merusak reputasi produk lokal.

  • Pertahanan Keamanan: Disinformasi dan radikalisasi digital dapat menjadi ancaman keamanan nasional, karena dapat memicu demonstrasi masif atau konflik sosial yang berpotensi dimanfaatkan oleh pihak asing.

Interdependensi ini menunjukkan bahwa ketahanan ideologi tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh aspek ekonomi dan pertahanan, sehingga strategi penguatan harus holistik.

III. Desain Strategi Simulatif

Nama Program:

“Gerakan Literasi Digital dan Kedaulatan Ideologi”

Tujuan:

Meningkatkan ketahanan ideologi masyarakat Indonesia di media sosial dengan mengurangi penyebaran hoax dan radikalisasi digital sebesar 30% dalam 3 tahun melalui edukasi, regulasi, dan kolaborasi multi-pihak.

A. Langkah Implementasi:

  1. Edukasi Literasi Digital: Menyelenggarakan workshop dan kampanye literasi digital di sekolah, kampus, dan komunitas masyarakat untuk meningkatkan kemampuan masyarakat membedakan informasi benar dan palsu.

  2. Penguatan Regulasi dan Monitoring: Memperketat regulasi konten di platform digital, bekerjasama dengan penyedia platform untuk menghapus konten provokatif dan radikal.

  3. Kolaborasi Multi-Pihak: Melibatkan pemerintah, NGO, akademisi, dan sektor swasta untuk membuat kampanye kreatif dan konten positif berbasis nilai Pancasila.

  4. Peningkatan Teknologi Deteksi Hoax: Mengembangkan sistem AI untuk mendeteksi penyebaran hoax dan konten radikal secara otomatis di media sosial.

  5. Evaluasi Berkala dan Pelibatan Komunitas: Melakukan survei dan monitoring dampak program setiap 6 bulan untuk menyesuaikan strategi sesuai dinamika sosial.

B. Indikator Keberhasilan:

  • Penurunan jumlah akun yang menyebarkan hoax radikal di media sosial sebesar minimal 30%.

  • Peningkatan skor literasi digital masyarakat minimal 20% berdasarkan survei tahunan.

  • Terbentuknya kemitraan lintas sektor (pemerintah, NGO, akademisi) yang aktif mengelola konten digital positif.


IV. Kesimpulan & Rekomendasi

Ketahanan ideologi di media sosial merupakan sektor kritis dalam Astaghata, karena terkait langsung dengan stabilitas politik, sosial budaya, dan keamanan nasional. Ancaman utama seperti hoax dan radikalisasi digital dapat memicu disintegrasi sosial jika tidak ditangani. Strategi “Gerakan Literasi Digital dan Kedaulatan Ideologi” menawarkan pendekatan holistik, realistis, dan berbasis indikator terukur, melibatkan edukasi, regulasi, teknologi, dan kolaborasi multi-pihak.

Pemerintah perlu berperan sebagai regulator dan fasilitator program, masyarakat sebagai penerima dan pengelola literasi digital, dan akademisi sebagai penyedia kajian serta evaluasi program. Dengan strategi ini, sektor ketahanan ideologi di media sosial dapat diperkuat, sehingga nilai Pancasila tetap menjadi pedoman dalam menjaga persatuan dan integritas bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Mandiri 09: Aurellia Rahma Elta Kusmana E41

Tugas Mandiri 07:Aurellia Rahma Elta Kusmana E41