Tugas Mandiri 10: Aurellia Rahma Elta Kusmana E41

Analisis Strategis Wawasan Nusantara dalam Pengelolaan Keberagaman Budaya dan Tantangan Dunia Global


Disusun Oleh:

Aurellia Rahma Elta Kusmana
 
46125010110


I. Pendahuluan

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan alam, budaya, dan sosial yang sangat beragam. Konsep Wawasan Nusantara (Wasantara) lahir sebagai cara pandang strategis bangsa Indonesia dalam memahami, mengelola, dan memanfaatkan seluruh potensi wilayah serta keberagaman masyarakatnya. Wawasan Nusantara menekankan prinsip Kesatuan Politik, Kesatuan Ekonomi, dan Kesatuan Sosial-Budaya, sekaligus menjadi dasar pertahanan nasional, pembangunan berkelanjutan, dan integrasi sosial.

Dalam era modern, bangsa Indonesia menghadapi dua tantangan utama: globalisasi yang membawa arus informasi, ekonomi, dan budaya global, serta keberagaman budaya yang jika tidak dikelola dengan bijak bisa menimbulkan konflik internal. Globalisasi menghadirkan peluang sekaligus ancaman bagi identitas nasional, sedangkan keberagaman budaya menjadi kekuatan sekaligus tantangan bagi persatuan bangsa.

Posisi tesis esai ini menegaskan bahwa Wawasan Nusantara tetap relevan dan krusial sebagai pedoman strategis untuk menghadapi globalisasi tanpa kehilangan identitas nasional, sekaligus sebagai integrator sosial-budaya yang memastikan keberagaman menjadi modal kekuatan bangsa, bukan sumber disintegrasi.


II. Bagian I:Wawasan Nusantara dan Tantangan Globalisasi

Globalisasi membawa dampak yang kompleks bagi Indonesia. Di satu sisi, arus informasi, perdagangan bebas, dan teknologi digital memberikan peluang pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan keterhubungan internasional. Namun, globalisasi juga menimbulkan risiko: masuknya budaya asing yang bisa mengikis nilai lokal, persaingan ekonomi global yang menuntut efisiensi tinggi, dan tekanan ideologi yang kadang bertentangan dengan Pancasila. Misalnya, budaya konsumtif, konten digital yang tidak sesuai nilai bangsa, dan praktik ekonomi yang merugikan lokal seringkali muncul sebagai dampak globalisasi.

Di sinilah Wawasan Nusantara berperan sebagai filter dan pedoman strategis. Prinsip Kesatuan Politik menegaskan integritas kedaulatan negara dan kepatuhan terhadap Pancasila, sehingga bangsa Indonesia tidak kehilangan arah akibat pengaruh asing. Sementara Kesatuan Ekonomi menjadi dasar untuk membangun strategi geoekonomi yang memanfaatkan peluang globalisasi, seperti ekspor produk unggulan lokal, inovasi teknologi, dan investasi strategis, tanpa tergantung pada kekuatan asing.

Refleksi personal menunjukkan bahwa Wawasan Nusantara dapat diaplikasikan di level individu maupun kebijakan publik. Misalnya, dalam menghadapi tren konsumsi global, masyarakat dapat memilih produk lokal berkualitas, mendukung UMKM, dan menolak konten yang merusak budaya. Di tingkat negara, kebijakan ekspor-impor, pengembangan sumber daya, dan pendidikan nasional dapat diarahkan agar manfaat globalisasi maksimal tanpa kehilangan identitas.

Dengan demikian, Wawasan Nusantara berfungsi sebagai benteng ideologi, strategi ekonomi, dan pedoman moral, yang memungkinkan Indonesia beradaptasi dengan dunia global tanpa kehilangan jati diri dan kedaulatan nasional.

Refleksi Diri – Globalisasi

Sebagai seorang mahasiswa, saya menyadari bahwa globalisasi memengaruhi gaya hidup, cara belajar, dan interaksi sosial saya. Misalnya, saya sering terpapar tren global melalui media sosial yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai lokal. Dengan prinsip Wawasan Nusantara, saya belajar untuk menyaring informasi dan budaya asing, memilih yang bermanfaat dan tetap menjaga identitas sebagai generasi Indonesia. Dalam hal kebijakan, saya juga mulai memahami pentingnya mendukung produk lokal dan inovasi bangsa agar manfaat globalisasi dapat dirasakan tanpa kehilangan jati diri.


III. Bagian II:Wawasan Nusantara dan Kekuatan Keberagaman Budaya

Keberagaman budaya adalah realitas fundamental Indonesia. Dengan lebih dari 17.000 pulau, ratusan bahasa, dan beragam tradisi, potensi konflik akibat perbedaan SARA selalu ada. Namun, keberagaman juga menjadi kekuatan strategis jika dikelola dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan asas Wawasan Nusantara.

Prinsip Kesatuan Sosial-Budaya dalam Wawasan Nusantara memastikan bahwa perbedaan budaya, agama, dan adat tidak menjadi sumber disintegrasi. Sebaliknya, keberagaman dipandang sebagai modal kekuatan nasional melalui solidaritas, keadilan, dan kepentingan yang sama. Contoh nyata adalah pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal, festival multietnis, dan pendidikan karakter yang menekankan toleransi. Dengan demikian, keberagaman menjadi sarana diplomasi budaya, penguatan identitas nasional, dan kohesi sosial.

Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting. Lingkungan kampus yang multikultural dapat menjadi laboratorium nyata untuk mengaktualisasikan Wawasan Nusantara. Misalnya, melalui dialog antarbudaya, kegiatan sosial lintas agama dan etnis, serta kampanye literasi kebangsaan, mahasiswa dapat menginternalisasi prinsip solidaritas dan keadilan, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekayaan, bukan ancaman.

Refleksi pribadi menunjukkan bahwa integrasi Wawasan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan menghormati perbedaan, mempromosikan budaya lokal, dan menolak diskriminasi. Dengan asas Wasantara—Solidaritas, Keadilan, Kepentingan yang Sama—mahasiswa dapat menjadi penghubung antarbudaya, menjaga keharmonisan, dan memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang multikultural.

Refleksi Diri – Keberagaman Budaya

Dalam kehidupan kampus, saya sering bertemu teman dari berbagai daerah, suku, dan agama. Awalnya perbedaan ini terasa menantang karena perspektif, kebiasaan, dan cara berkomunikasi berbeda. Namun, dengan prinsip Kesatuan Sosial-Budaya, saya belajar untuk menghormati perbedaan, mendengarkan, dan menemukan kepentingan bersama. Contohnya, saat mengikuti kegiatan komunitas kampus, saya aktif mendorong kegiatan lintas budaya, seperti festival makanan tradisional, diskusi multikultural, dan seminar toleransi. Pengalaman ini mengajarkan bahwa keberagaman bukan halangan, tetapi justru modal untuk menciptakan keharmonisan dan membangun solidaritas sosial.


Penutup

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa Wawasan Nusantara merupakan landasan vital bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi dan keberagaman budaya. Melalui prinsip Kesatuan Politik, Kesatuan Ekonomi, dan Kesatuan Sosial-Budaya, bangsa Indonesia mampu mempertahankan identitas, memanfaatkan peluang global, dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan strategis.

Pentingnya Wawasan Nusantara tidak hanya berlaku pada level kebijakan negara, tetapi juga pada tindakan individu dan masyarakat. Mahasiswa, sebagai generasi penerus, memiliki tanggung jawab untuk mengaktualisasikan prinsip-prinsip Wasantara dalam kehidupan sehari-hari: menghormati perbedaan, mempromosikan budaya lokal, dan bersikap kritis terhadap pengaruh asing yang dapat mengikis nilai-nilai bangsa.

Sebagai aksi nyata, mahasiswa dapat menginisiasi program pendidikan lintas budaya, kampanye literasi digital yang beretika, dan pengembangan UMKM berbasis lokal. Dengan demikian, Wawasan Nusantara tidak hanya menjadi konsep teoritis, tetapi menjadi strategi hidup yang menjamin ketahanan, identitas, dan keberlanjutan bangsa Indonesia di era globalisasi.


Daftar Pustaka (3 Sumber)

  1. Lemhannas RI. (2020). Wawasan Nusantara dan Strategi Ketahanan Nasional. Jakarta: Lembaga Ketahanan Nasional.

  2. Poerwadarminta, W. J. S. (2017). Pengantar Wawasan Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.

  3. Suryadinata, L. (2018). Globalisasi dan Identitas Nasional Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3ES.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Mandiri 09: Aurellia Rahma Elta Kusmana E41

Tugas Mandiri 07:Aurellia Rahma Elta Kusmana E41